Napza dan Keluarga

Maraknya penyebaran Napza menjadi suatu momok yang menakutkan. Sebab dampak bagi penyalahgunaan Napza itu sendiri akan merugikan lingkungan sosial tersebut mulai dari lingkup yang kecil bahkan hingga ke Negara yang bersangkutan. Apa itu Napza? Napza singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain. Napza adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan memengaruhi tubuh terutama otak/susunan syaraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosial, oleh karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi), serta ketergantungan (dependensi) terhadap Napza (Jazuli, 2007). Ada juga nama lain yang digunakan selain Napza seperti Narkoba (Narkotika dan Bahan Berbahaya), zat psikoaktif, dan Narkotika. berikut secara singkat pengertian dari komponen Napza.

Undang-undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, memberikan pengertian bahwa Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran , hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan Narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Sedangkan zat adiktif adalah zat atau bahan kimia yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan memengaruhi tubuh, terutama susunan syaraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan aktivitas mental, emosional, dan perilaku.

Dari informasi diatas dapat kita ketahui walaupun memiliki arti yang berbeda namun memiliki efek negatif  yang hampir sama berupa perusakan bagian tubuh seperti otak dan saraf akibat dari ketergantungan Napza. Berikut adalah bagaimana seseorang dapat mengalami ketergantungan dengan Napza yang memiliki tiga tingkatan jenis yaitu, (Jazuli, 2007, p. 16):

  1. Ketergantungan reaktif, yaitu ketergantungan dikarenakan oleh rasa ingin tahu dan ingin mencoba. Hal semacam ini banyak terjadi dikalangan generasi muda, baik karena dorongan rasa ingin tahu yang kemudian tidak dapat dihentikan ataupun akibat bujukan teman
  2. Ketergantungan simptotatis, yaitu munculnya sifat-sifat negatif dari para pengguna Narkoba, misalnya gejala sifat anti sosial (psikopat), kriminal dan bersenang – senang .
  3. Ketergantungan pimer, yaitu apabila mulai timbul rasa cemas dan depresi. Ini banyak terjadi pada para pemakai narkoba tahap awal, dan terutama terdapat pada mereka –mereka yang berkepribadian labil.

Siapakah yang seharusnya berperan aktif dalam pencegahan dari penyalahgunaan Napza ini?  Pertanyaan tersebut pasti memiliki jawaban yang kompleks, akan tetapi bila dikerucutkan ruang lingkupnya maka orang tualah yang berperan besar dalam pencegahan tahap awal dari penyalahagunaan Napza. Sebagai tempat pendidikan pertama, keluarga memiliki peran yang banyak dalam pencegahan dari penyalahgunaan Napza, maka sudah sewajarnya orang tua melakukan hal yang terbaik yang berkaitan dengan anaknya dengan cara:

  1. Memberikan pengetahuan bertahap mengenai Napza yang disesuaikan dengan umur anak.
  2. Selalu mengontrol serta mengamati adakah hal-hal yang mencurigakan bahwa anak mengarah kepada narkoba.
  3. Mengetahui kegiatannya baik ketika disekolah dengan selalu berkonsultasi dengan wali kelas. Untuk kegiatan bermain pastikan orang tua mengetahui teman dan kebiasaan mereka bermain.
  4. Orang tua harus memiliki sifat keterbukaan, sehingga anak yang sedang mangalami masalah dapat bercerita kepada orang tua untuk mendapatkan solusi yang terbaik.
  5. Ajaklah anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat tatkala waktu senggang, seperti mengajak anak untuk berolahraga.
  6. Orang tua tidak boleh bertengkar dihadapan anak, hal ini akan mempengaruhi psikologis anak dan anak akan merasa tertekan.
  7. Membiasakan anak bertanggung jawab terhadap hal yang kita perintahkan. Hal ini akan melatih anak agar berhati-hati terhadap hal yang dilakukannya.
  8. Memberikan apresiasi terhadap anak apabila mendapatkan sesuatu hal yang positif seperti juara kelas dan memberikan sanksi yang mendidik apabila anak berbuat kesalahan, seperti membersihkan rumah (bukan hal yang membuat anak menjadi trauma).
  9. Menceritakan pengalaman hebat yang dialami orang tua kepada anak, hal ini dapat menambah wawasan anak serta memiliki gambaran kedepannya.
  10. Memberikan pengajaran agama yang cukup kepada anak seperti memasukkan anak kepada kelompok pengajian di masjid. Hal ini membuat anak berbakti kepada orang tua, tidak berbohong, tidak berkata kasar.

Tidak hanya berhenti disitu, selain menjadi  pencegahan maka orang tua juga harus dapat menjadi tempat kembali apabila anak sudah terjerat kasus narkoba. Karena apabila sang anak terjerat kasus narkoba kemudian dilingkungan ia berada sudah dikucilkan maka tidak ada tempat lagi kecuali keluarga. Untuk itu keluarga memiliki peran dalam pengobatan agar kenakalan anak tidak menyebar ke daerah lain. Adapun dalam hal ini orang tua harus melakukan hal berikut:

  1. Selalu memberikan dukungan kepada anak agar terlepas dari kecanduan narkoba.
  2. Ikut mengamati sejauh mana perubahan yang terjadi dan harus sering berkomunikasi dengan dokter rehabilitasi.
  3. Meyakinkan kepada anak masih bisa untuk hidup normal dengan memanfaatkan kesempatan ini.
  4. Jauhkan barang-barang Narkoba pada aktifitasnya.
  5. Cari tempat tinggal lain bila kondisi sudah tidak aman dengan Narkoba.
  6. Jangan memandang anak dengan pandangan yang sinis, perlakukanlah anak sebagaimana biasanya.
  7. Memutuskan hubungan terhadap temannya yang masih aktif menjadi pecandu.

Karena banyak kejadian bagaimana seseorang dapat menjadi pecandu disebabkan kurang perhatian dari banyak pihak terutama dari orang tuanya. Orang tua diharapkan dapat menjadi benteng dalam menjaga perbuatan anaknya dari hal-hal yang bersifat negatif. Namun tidak sepenuhnya bila orang tua selalu disalahkan, karena tidak hanya faktor orang tua namun juga teman, dan lingkunganlah yang menjadi faktor yang cukup besar dalam mempengaruhi seseorang.

Kisah yang didapat dari situs https://www.rappler.com diceritakan di sebuah rumah rehabilitasi yang dikenal dengan Rumah Sehat Orbit Surabaya (RSOS). Di RSOS terdapat peserta rehabilitasi yang berjumlah 18 orang yang terdiri dari 14 laki-laki dan 4 perempuan, salah satunya ialah Rahma (nama samaran). Siswi kelas 2 SMP ini putus sekolah akibat menggunakan sabu. Rahma merupakan korban dari keluarga broken home sehingga ia diasuh oleh neneknya di daerah Kapasan, Surabaya. Ia mengenali sabu dari lingkungan dimana ia hidup, sampai pada tingkatan “ayah dan anak nyabu bareng”, dan hal itu dianggap  hal yang lumrah di daerahnya. Di lingkungan yang buruk itu Rahma mengenal sabu. Uang yang diberi neneknya untuk sekolah digunakan oleh Rahma untuk membeli sabu. Sabu yang didapatkan Rahma dari pacarnya yang juga merupakan pengedar sabu. Selain itu Rahma juga pernah menjadi pengedar sabu yang sempat ditangkap oleh Satpol PP di tempat hiburan malam. Namun setelah pindah ke RSOS, Rahma sudah mengalami kemajuan.

 

Penulis: 

Hasbi Dicky Baihaqi

Mahasiswa Tehnik Elektro, Universitas Islam Indonesia.

email: [email protected]

Essay ini adalah Juara 2 dari Lomba menulis Essay Milad Pusat Studi Napza ke-5, 22 Januari 2018