Menghindari Narkoba: Mengajak, Bukan Mendikte

 

Dalam buku Psikologi Komunikasi yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat (2011), dijelaskan bahwa terdapat pelbagai faktor yang mempengaruhi manusia. Faktor-faktor tersebut, di antaranya adalah faktor biologis, faktor sosiopsikologis, dan faktor situasional. Faktor biologis jelas mutlak kaitannya dengan unsur genetis, sementara faktor sosipsikologis diklasifikasikan menjadi tiga komponen, yakni afektif, kognitif, dan konatif. Selain itu, mengacu pada Delgado (dalam Packhard, 1978, dalam Rakhmat, 2011) terdapat pula faktor situasional yang banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.

Faktor yang paling umum disebutkan menjadi alasan mengapa seseorang mengonsumsi narkoba adalah faktor lingkungan. Apabila menilik penjelasan Rakhmat (2011), hal tersebut dapat dibenarkan. Pasalnya, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang adalah struktur sosial dan lingkungan psikososial. Kedua hal tersebut berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal, dimana perilaku mengonsumsi narkotika yang dimiliki seseorang dapat muncul karena adanya pengaruh dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Secara struktural, misalnya orang tersebut mengonsumsi narkotika karena orang yang memiliki tingkatan sosial lebih tinggi darinya juga mengonsumsi narkotika. Tingkatan sosial atau struktur sosial yang lebih tinggi, misalnya adalah orangtua dengan anak atau pimpinan dengan bawahan (karyawan, pekerja). Sementara yang dimaksud dengan lingkungan psikososial adalah lingkungan tempat tinggal, meliputi orang-orang yang berinteraksi dengannya dan suasana yang muncul pada proses interaksi. Selanjutnya,  terdapat pula stimulus yang mendorong dan memperteguh seseorang untuk memiliki suatu perilaku. Dalam hal ini, kita dapat memahaminya dengan stimulus yang menyebabkan seorang pengguna narkoba untuk mengonsumsinya secara terus-menerus.

Penjelasan ringan mengenai struktur sosial dan lingkungan psikososial dapat dilakukan dengan menilik lingkungan keluarga. Dalam keluarga, pola asuh dan kebiasaan yang dibentuk oleh orangtua tentu memberi pengaruh besar terhadap perilaku anak. Mungkin dari situlah muncul paradigma bahwa anak-anak yang dianggap nakal secara standar sosial adalah buah yang pantas dipetik oleh orangtua yang tidak kompeten mendidik anak. Anak-anak yang dianggap ‘nakal’ tersebut, misalnya adalah anak-anak yang suka membantah, melawan, dan  kerap melanggar norma sosial. Kata ‘nakal’ juga dapat digunakan untuk merujuk anak-anak (remaja) yang mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Paradigma itulah yang boleh jadi menyebabkan orangtua merasa aman ketika anaknya bukanlah ‘anak nakal’, kemudian begitu saja yakin bahwa anaknya tidak akan menjadi pengguna narkoba. Padahal, jika ingin membuat perhitungan lebih rinci, stigma negatif yang muncul dari kata ‘nakal’ sebenarnya belum tentu menjadi jaminan akan hal baik.

Terdapat beberapa kasus pengguna narkoba yang kisahnya menjadi lebih dramatis karena ia dikenal sebagai anak yang ‘baik’ dari keluarga yang ‘baik’. Jika dilihat kesehariannya, anak tersebut nyaris tidak mungkin merupakan anak ‘nakal’ yang mengonsumsi narkoba. Namun, catatan medis berkata lain. Kasus-kasus seperti itulah yang seharusnya dijadikan pelajaran, bahwa siapapun dapat terkena jeratan narkoba, sehingga tidak ada lagi orangtua yang tenang dan ayem, tidak peduli dengan aktivitas si anak asalkan nilai akademisnya bagus di sekolah. Memiliki nilai akademik yang baik belum tentu menjadi jaminan bahwa seorang anak memiliki lingkungan pertemanan yang aman. Memiliki teman-teman yang sopan dan santun belum tentu menjadi jaminan bahwa seorang anak pasti terbebas dari ancaman narkoba. Orangtua agaknya tidak boleh lupa, bahwa selain faktor sosial dan lingkungan, terdapat pula faktor lain yang tidak dapat diremehkan, yakni keberadaan teknologi (Rakhmat, 2011).

Sebagai bagian dari generasi Y (Zemke, 1999), saat ini, masyarakat berusia remaja dan dewasa awal tidak dapat dipisahkan dari teknologi, terutama internet. Seperti yang kita ketahui, internet tidak pernah melalaikan tugasnya untuk menyebarkan informasi, sehingga segala informasi yang telah diunggah dapat diakses oleh semua orang tanpa adanya keterbatasan geografis. Sayangnya, ‘niat baik’  internet tersebut juga berlaku pada penyebaran konten negatif, termasuk mempermudah akses terhadap narkotika.

Konten negatif yang terdapat di internet, terlepas dari muatan pornografi dan kekerasan yang juga tak kunjung mendapat lampu hijau, dapat pula bersinggungan dengan kejahatan narkotika. Konten mengenai narkotika dan minuman keras dapat ditemukan dengan mudah di media sosial. Gambar dan video yang disebarkan melalui media sosial dapat memicu ketertarikan dan keingintahuan seseorang sehingga terdorong untuk mencoba.

Mendengar sisi negatif dari internet dan media sosial, tidak jarang orangtua menjadi salah kaprah. Beberapa orangtua akhirnya menarik teknologi dari kehidupan si anak. Padahal, bukan di situ poin utamanya. Meskipun orangtua melarang si anak untuk menggunakan smartphone, anak tersebut tetaplah bagian dari masyarakat yang bergantung pada smartphone, baik saat ini maupun di masa depan. Maka dari itu, tidak tepat apabila orangtua lantas membatasi ruang gerak anak dengan tujuan prefentif.

Merupakan hal yang penting bagi orangtua untuk mengetahui aktivitas harian dan teman bergaul anak. Namun, mengingat emosi remaja yang cenderung tidak stabil (Witmer, 2017), cara untuk berkomunikasi dengan mereka juga perlu diperhatikan (Frank, n.d, dan LifeCare, 2011). Jangan terkesan menginterogasi, karena anak boleh jadi merasa marah dan merasa privasinya diusik. Jangan diam-diam mengawasi anak melalui media sosialnya kemudian menghakiminya, karena anak boleh jadi kehilangan rasa percaya terhadap orangtuanya lalu mem-privasi akun-akun media sosialnya. Jangan pula menilai teman-teman si anak dan mendikte apa yang harus dan tidak boleh ia lakukan, karena remaja benci diatur dan tindakan tersebut justru dapat menimbulkan rasa ingin memberontak.

Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi dengan baik? Caranya adalah dengan berteman dengan anak. Sesuai teori Delgado, keluarga haruslah menjadi rumah bagi anak. Untuk itu, orangtua sebaiknya meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anak. Ketika mengobrol, pelajari perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Apa yang kini ia sukai, kegiatan apa yang membuatnya bersemangat, peristiwa yang membuatnya sedih, dan mimpinya di masa depan. Ketika mengobrol, alih-alih mendikte, orangtua dapat menanamkan nilai-nilai hidup, sehingga anak lebih terbuka untuk menerimanya. Nilai-nilai hidup yang diajarkan, misalnya ketaatan beragama, motivasi-motivasi untuk membangun mental anak, atau pengetahuan mengenai bahaya narkoba.

Ketika seorang anak merasa diberi kepercayaan, maka ia akan belajar untuk bertanggungjawab. Selanjutnya, ia akan belajar untuk berpikir sebelum bertindak, sehingga ia tahu konsekuensi apa yang harus ia hadapi dari perbuatan yang dilakukannya. Jika diulang terus-menerus, hal tersebut dapat menumbuhkan keteguhan hati. Apabila demikian, maka orangtua agaknya tidak perlu risau dengan siapa anak berteman, karena dalam diri si anak sudah tertanam pemikiran-pemikiran dan perilaku positif. Orangtua sebaiknya tidak menjadi tokoh utama dalam pencegahan konsumsi narkoba pada anak, melainkan mengajak anak untuk turut serta menjadi aktor yang meneguhkan hatinya untuk menjauhi narkoba. Singkatnya, mengajak anak untuk berpikir dan menyadari bahwa narkoba merupakan barang berbahaya merupakan cara yang jauh lebih baik dibanding terang-terangan berkata “Hati-hati pilih teman, jangan sampai pakai narkoba!”

 

Referensi

Frank, C. (n.d). 5 Teen Behavior Problems: A Troubleshooting Guide. Diambil kembali dari webMD: https://www.webmd.com/parenting/features/behavior-problems#1

LifeCare. (2011). A WorkLife4You Guide. Teens and At-Risk Behaviors. Shelton, Connecticut, Fairfield: Life Care.inc.

Rakhmat, J. (2011). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Roesdakarya.

Witmer, D. (2017, Desember 26). Social and Emotional Development in Teens Ages 13 to 18. Diambil kembali dari verywell: https://www.verywell.com/social-and-emotional-development-in-teens-ages-13-18-2609056

Zemke, R. (1999). Generations at Work. New York: AMACOM.

 

Penulis:

Sabila Royana
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta

WA 085865311695
billaroyana@gmail.com

Essay ini adalah Juara 3 dari Lomba menulis Essay Milad Pusat Studi Napza ke-5, 22 Januari 2018