Category Archives: Activity

SOSIALISASI PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA BAGI MAHASISWA BARU UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA TA.2017-2018

Berdasarkan laporan Badan Narkotika Nasional (BNN) (2016), temuan jumlah kasus penyalahgunaan narkoba yang terungkap di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data pengungkapan kasus di tahun 2006 sekitar 17.326 kasus, lalu meningkat menjadi 26.461 kasus di tahun 2010. Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya) ini baik secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan kerugian negara yang sangat besar. Dari sisi sosial fenomena timbulnya tindak kejahatan karena penyalahgunaan Napza bisa dipastikan meningkat. Dari aspek kesehatan tentunya akan terjadi peningkatan beban kesehatan, salah satunya tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat penggunaan Napza dan meningkatnya penyakit menular seperti HIV/AIDS yang disebabkan karena penggunaan jarum oleh pengguna Napza. Kedepannya diproyeksikan akan terjadi peningkatan kerugian sosial dan ekonomi akibat penyalahgunaan Napza sebesar 63.1 trilyun menjadi 143.8 trilyun di tahun 2020.

Sebagai bentuk kepedulian kepada generasi muda, melalui Pusat Studi Napza pada tanggal 5 September 2017 Universitas Islam Indonesia telah mengadakan kegiatan sosialisasi pencegahan penyalahgunaan Napza bagi mahasiswa baru UII. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan UII kepada pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kegiatan yang juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan penguatan “imunitas” mahasiswa baru terhadap ancaman Napza ini bekerjasama dengan BNN Pusat dan BNNP DIY. Dalam sambutannya, Rektor UII Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., Ph.D menegaskan bahwa UII tidak mentolerir penggunaan Napza, “Tidak ada toleransi di UII, setiap mahasiswa yang melakukan pelanggaran dengan menggunakan NAPZA, maka UII akan memberikan sanksi yang sangat berat mulai dari skorsing sampai pemecatan”.

Prof. Dr. dr. H. Soewadi, MPH., Sp.KJ(K) selaku kepala Pusat Studi Napza dan juga pembicara dalam kegiatan tersebut menyebutkan bahwa mahasiswa harus memahami apa itu Napza, bagaimana dampaknya bagi kesehatan fisik, mental dan sosial serta bagaimana kiat-kiat menghindarinya. Selanjutnya, Prof. Soewadi dalam penjelasannya juga menyebutkan bahwa penyalahgunaan obat-obatan merupakan fenomena iceberg. Jumlah yang tampak jauh lebih kecil daripada realita yang sesungguhnya di masyarakat.

Kepala bidang pencegahan BNNP DIY, Bambang Wiryanto S.Si mengatakan sosialisasi seperti yang dilakukan Pusat Studi Napza UII ini sangat penting dan diharapkan bisa memberikan contoh bagi perguruan tinggi lainnya untuk peduli dan mau berkontribusi melawan narkoba. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa permasalahan narkoba di DIY sudah sangat mengkhawatirkan. “Dari hasil penelitian yang diadakan BNN bekerjasama dengan UI pada tahun 2015, DIY menduduki peringkat ke-8 Penyalahgunaan Narkoba dengan total pengguna 60.182 orang. Sedangkan hasil penelitian 2016, kalangan mahasiswa DIY menduduki peringkat pertama seluruh Indonesia dalam hal penyalahgunaan narkoba sehingga seluruh elemen termasuk perguruan tinggi di Yogyakarta harus bersinergi dengan BNN untuk menurunkan angka ini” ungkapnya.

Acara yang diselenggarakan di Auditorium KH. Abd. Kahar Mudzakir UII ini diisi langsung oleh Brigjen (P) Pol dr. Victor Pudjiadi, Sp.B, FICS,DFM selaku Staf Ahli Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia dan dihadiri oleh segenap mahasiswa baru UII. Dokter yang merupakan lulusan dokter termuda di Indonesia dan pemegang berbagai rekor MURI dan dunia ini menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa baru UII bahwa penyalahgunaan Napza sangat tidak menguntungkan bagi penggunanya. Kerugian yang ditimbulkan banyak sekali mencakup kesehatan, keuangan, prestasi, hubungan sosial dan bahkan menyebabkan kematian. Beliau juga menyatakan bahwa saat ini pembentukan satgas Narkoba sangat dibutuhkan sebagai salah satu upaya membebaskan Indonesia dari kondisi darurat Narkoba.

 

IMG_5503[1]IMG_5510[1]IMG_5487[1]

Preface

For centuries, scientists studying drug abuse struggled in the shadows of misconceptions about the nature of addiction. According to NIDA when scientists began to study addictive behavior in the 1930s, people addicted to drugs were thought to be morally flawed and lacking in willpower. Those views shaped society’s responses to drug abuse, treating it as a moral failing rather than a health problem, which led to an emphasis on punishment rather than prevention and treatment. Today, thanks to science, our views and our responses to addiction and other substance use disorders have changed dramatically.

The term addiction as used here may be regarded as equivalent to a severe substance use disorder as defined by the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5, 2013). Addiction is a lot like other diseases, such as heart disease. Both disrupt the normal, healthy functioning of the underlying organ, have serious harmful consequences, and are preventable and treatable, but if left untreated, can lasts a lifetime.

At the Center for Study of Drug Abuse in Universitas Islam Indonesia, we believe that increased understanding of the basics of addiction will empower people to make informed choices in their own lives, adopt science-based policies and programs that reduce drug abuse and addiction in their communities, and support scientific research that improves the human well-being.

In general, one of the reason people begin taking drugs for curiosity and because others are doing it. In this respect, adolescents are particularly vulnerable because of the strong influence of peer pressure.

Substance-related conditions confer a massive burden of disease, huge social costs, and a financial impact which far exceeds highly prevalent medical disorders, such as heart disease or cancer. Treatment is strongly associated with reducing the negative social and personal impact of substance-related disorders, yet only a small percentage of affected individuals access treatment. Stigma surrounding substance-related conditions is cited as one of the major reasons why such individuals do not seek treatment

Stigma can be understood as an attribute, behavior, or reputation that is socially discrediting, and substance-related problems appear to be particularly stigmatized. A cross-cultural study conducted by the World Health Organization (WHO) in 14 countries examined 18 of the most stigmatized conditions (e.g., being a criminal, HIV positive).
Prof. Dr. dr. Soewadi, MPH, Sp.Kj (K)
Head of Centre Study of Drug Abuse

Universitas Islam Indonesiakip to m